Kopi Arabika Flores Bajawa

Kopi Arabika Flores Bajawa

Kopi Arabika Bajawa atau dikenal dengan nama Kopi Bajawa (bahasa Inggris: Bajawa Coffee) merupakan varietas kopi arabika. Kopi Arabika merupakan sumber pendapatan utama bagi masyarakat yang mendiami wilayah dataran tinggi Ngada di Pulau Flores bagian tengah pada koordinat antara 120°05″ BT – 121°03″ BT dan 08°45″ LS – 08°52″ LS. Dataran tinggi Ngada merupakan kawasan pertemuan dua lereng gunung api, yaitu Gunung Inerie dan Gunung Abulobo. Secara administratif kawasan tersebut merupakan wilayah dua kecamatan, yaitu Kecamatan Bajawa dan Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngadha, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

beberapa tahun belakangan, konsumsi kopi memang cukup meningkat dengan signifikan di tanah air. Bukan sekadar gerai kopi yang menyebar di pelbagai tempat hingga di pelosok-pelosok kota kabupaten saja yang menandai hal itu, pun pula pencarian pada pelbagai jenis kopi di Nusantara. Keuntungan dari negeri kita Indonesia ini memang keberagamannya. Keberagaman geografis dan juga keberagaman budaya. Dua hal ini sedikit banyak menjadi ciri penanda dari kopi-kopi di Indonesia, begitu juga Kopi Bajawa. Kita tahu, tanaman kopi akan berkembang sesuai dengan karakter tempat di mana ia ditanam, karakter geografis dan karakter budayanya. Keduanya itu sesungguhnya pula saling berhubungan. Demikianlah maka pada wilayah tertentu, kopi yang dihasilkan akan bercita rasa tertentu dan ini tentunya berbeda, meski pun juga punya karakter sama dengan kopi-kopi dari wilayah lain. Tentu saja kekhasan geografis yang beragam itulah penyebabnya. Di dalam konteks karakter budaya, penamaan pada sebuah jenis kopi memberikan sugesti yang berbeda pada konsumennya. Katakanlah, penamaan Kopi Bajawa membawa di dalam benak kebudayaan tanah Bajawa itu. Hal ini bahkan terjadi pada konsumen yang belum pernah sama sekali datang ke tanah Bajawa. Sang konsumen kopi itu setidaknya merasa ia mereguk sesuatu dari tanah yang jauh, meski ia belum ke sana. Barangkali hal ini mirip dengan perasaan orang-orang Eropa ketika menghirup aroma rempah meskipun belum pernah datang ke Hindia Belanda pada abad-abad yang silam.

Usia Kopi Bajawa sendiri, menurut beberapa sumber, tidak setua usia kolonialisme tersebut. Bahkan belum seusia Republik Indonesia. Adalah Matheus Jhon Bey, Bupati Kabupaten Ngada periode 1978-1988-lah, orang paling berjasa di balik kehadiran Kopi Bajawa jenis Arabika yang terkenal itu kini. Pada 1977, ia mendatangkan bibit kopi dari Jawa untuk dibudidayakan di Kabupaten Ngada. Kopi ini lantas dibudidayakan di dua kecamatan yakni Golewa dan Bajawa, dua kecamatan yang ketinggiannya di atas 1.000 mdpl, cocok dengan sifat arabika. Sejak itu, kopi Bajawa jenis Arabika semakin meluas dan terus dibudidayakan secara telaten oleh masyarakat di Kabupaten Ngada. Pada sumber-sumber yang lain, kita mendapatkan informasi bahwa Kopi Bajawa menjadi terkenal semenjak film Ada Apa Dengan Cinta 2. Di dalam satu adegan film itu, Rangga dewasa yang baru pulang dari New York karena pada hari itu memang tak ada New York menemui Cinta yang tengah berlibur di Jogja bersama geng SMA-nya. Pada salah satu kedai kopi, dua pasangan cinta monyet masa SMA itu menyeruput kopi sambil saling berdiskusi.

Jadi demikianlah. Kehadiran Kopi Bajawa di Kabupaten Ngada terjadi lantaran inisiatif dari seorang pamong praja yang barangkali melihat potensi yang ada pada daerah tersebut. Sedangkan faktor yang membuatnya menjadi sangat populer didorong oleh kerja kebudayaan yakni sebuah film. Tentu saja bukan AADC 2 semata yang membuat remaja tanggung di Jakarta Selatan misalnya menyeruput Kopi Bajawa pada kencan pertamanya. Ada petani di Ngada yang begitu telaten mengerjakan kebun kopinya serta ada distributor-distributor yang mampu memastikan hasil panen kopi di Bajawa bisa tersaji dalam kemasan yang cantik di gerai-gerai kopi di Jakarta. Jika popularitas Kopi Bajawa akibat nongol sebentar di dalam film AADC 2 tidak diimbangi infrastruktur perdagangan Kopi Bajawa yang baik, maka sia-sialah semuanya itu. Ia hanya ingat beberapa hari saja setelah orang menyaksikan film itu dan lantas dilupakan. Beruntunglah bahwa kopi itu sudah tersedia di gerai-gerai seusai film itu muncul. Sehingga ingatan orang tentangnya bisa terjaga dan bahkan dipupuk terus menerus.

Hal yang diungkapkan di atas menunjukkan sebuah fenomena penting untuk kita. Bahwasanya pembangunan kebudayaan mestilah berjalan beriringan dengan pembangunan sektor lainnya sehingga mampu membawa kemaslahatan untuk banyak orang. Atau kerja-kerja kebudayaan mestilah juga jeli mengangkat potensi-potensi lain. Dengan begitu barulah kesejahteraan secara keseluruhan bisa menampak.

Bicara tentang kopi dan Flores, saya teringat larik dari seorang penyair, Djoko Saryono yang kira-kira jika diparafrasekan berbunyi demikian, ‘ketika ku minum seteguk kopi, sesungguhnya aku menghirup jejak kolonialisme.’ Tentu saja larik dari Djoko Saryono tidak secepat itu. Ketika membuat tulisan ini saya lupa meletakkan dimana buku kumpulan puisi beliau. Sudah coba saya cari tetapi tak bersua jua. Di mesin pencari google pun puisi yang saya maksudkan tidak saya jumpai. Namun demikian, mengapa larik puisi ini begitu melekat pada saya, tentu saja lantaran kebenaran yang teramat puitis, bukan puitisnya puisi tersebut, di balik kalimat itu. Kita barangkali jarang betul membayangkan kolonialisme ketika ngopi-ngopi cantik dengan para sahabat. Tetapi memang apa yang kita banggakan dengan kopi Indonesia tersebut adalah memang warisan Kolonial. Sejarah kopi di Indonesia mencatat bahwa pada tahun 1696 VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) mendarat di Jawa. Di dalam bawaan mereka yang begitu banyak, mereka juga membawa kopi dari Malabar, India, berjenis arabika. VOC lantas menanamnya di Sumatera, Sulawesi, Bali, Timor, dan pulau-pulau lain di HIndia Belanda. Bahkan, kopi menjadi salah satu komoditas andalan untuk VOC. Ketika itu, tahun 1700-an, penjualan kopi dari Hindia Belanda begitu besarnya hingga ke Belanda pun memonopoli pasar kopi dunia pada waktu itu. Hingga di level dunia pun Pulau Jawa termasuk pusat produksi kopi. Hingga ketika itu secangkir kopi jadi populer dengan nama atau istilah a cup of Java.

Setali tiga uang dengan sejarah kopi, ketika kita menambahkan embel-embel Flores di belakang kopi, maka kita pun sesungguhnya berbenturan dengan suatu hal yang sama. Nama Flores sendiri bukanlah nama asli. Itu adalah nama yang muncul akibat kolonialisme pula. Nama asli dari Pulau Flores sendiri sebetulnya Nusa Nipa atau Pulau Ular. Nama Flores berasal dari bahasa Portugis, “cabo de flores” yang berarti “Tanjung Bunga”. Nama tersebut semula diberikan oleh S.M. Cabot untuk menyebut wilayah timur dari pulau Flores. Akhirnya dipakai secara resmi sejak tahun 1636 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda kala itu, Hendrik Brouwer, untuk menyebut pulau yang sekarang dikenal sebagai Pulau Flores itu.

Pada nama Kopi Flores – Bajawa dengan demikian kita sebetulnya secara berlebihan menunjukkan warisan dari kolonialisme kepada kita. Kopi itu sendiri adalah warisan kolonial dan nama pula tempat asal dari kopi yang dirujuk adalah nama yang diberikan oleh kolonial pula. Namun demikian, terlepas dari sejarah yang demikian adalah kemampuan kita untuk membalikkan warisan kolonial tersebut untuk kebutuhan dan kepentingan kita sendiri. Di dalam kasus Kopi Bajawa Flores sesungguhnya tampak pula upaya untuk keluar dari jebakan kolonialisme itu. Kopi Bajawa Flores kini menjadi salah satu komoditi yang mengharumkan nama pulau berbentuk menyerupai ular tersebut

Karakteristik

Kopi Arabika dari kawasan ini jika disangrai pada tingkat sedang (medium roasting) secara umum memiliki komponen-komponen citarasa utama sebagai berikut: aroma kopi bubuk kering (fragrance) dan aroma kopi seduhan (aroma) kuat bernuansa bau bunga (floral), perisa (flavor) enak dan kuat, kekentalan (body) sedang sampai kental, keasaman (acidity) sedang, serta kesan rasa manis (sweetness) kuat. Selain menggunakan tingkat sangrai sedang komponen rasa yang dihasilkan dari kopi tersebut terdapat juga rasa karamel, coklat, citrus, hazelnut, kacang macadamia bahkan terdapat juga cita rasa herbal yang terkandung dalam kopi jenis ini

Geografis

Wilayah geografis (1 200-1.800 m dpl) memiliki tanah yang gelap, subur berpori yang berasal dari material vulkanik, yang dengan kondisi iklimnya (suhu rata-rata 15-25 °C, dan pada waktu-waktu tertentu suhu sangat dingin (<10 °C) karena pengaruh angin muson, dengan angin tenggara dari benua Australia) menciptakan suatu wilayah tertentu. Ekosistem pertanian di wilayah tersebut sangat cocok untuk kopi arabika, yang dikombinasikan dengan kondisi iklim dataran tinggi Ngada dan pengetahuan produsen menghasilkan kopi berkualitas tinggi.

Pada tahun 1958, berdasarkan UU 69/1958 tentang pembentukan daerah tingkat dua (II) pada daerah tingkat satu (I) untuk wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur menjadi dasar terbentuknya Dinas Pertanian dan Perkebunan. Proyek PRPTE yang dimulai tahun anggaran 1978/1979 melalui Dinas Perkebunan Propinsi Nusa Tenggara Timur mulai berusaha untuk membangkitkan kembali budidaya kopi arabika di Flores melalui Proyek Rehabilitasi dan Pengembangan Tanaman Ekspor (PRPTE). Pertimbangan pengembangan kopi arabika di Flores bukan hanya didasarkan pada kepentingan ekspor, akan tetapi perkebunan kopi di dataran tinggi Bajawa juga dipandang mempunyai peran strategis dalam melestarikan fungsi hidrologis. PRPTE di Flores telah mampu mengembalikan dan menambah luas areal perkebunan di Flores sehingga produksi kopi dari Flores mulai meningkat. Pada akhir tahun 1980-an, luas lahan kopi di Flores mencapai sekitar 8.000 ha. Program Pengembangan Wilayah Khusus (P2WK) yang digulirkan pada tahun 1993/1994 menjadi awal pengembangan kopi secara lebih luas di daerah Ngada.

Kendali Mutu

Sejak dilakukan pemberdayaan petani kopi Arabika di kawasan dataran tinggi Bajawa oleh Dinas Perkebunan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Pemerintah Kabupaten Ngada, dan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia mulai tahun 2004 telah terjadi perbaikan mutu kopi petani yang signifikan serta telah berhasil dipromosikan ke segmen pasar specialty dengan nama Kopi Arabika Flores Bajawa. Kegiatan pemberdayaan tersebut telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, baik berupa peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani kopi maupun peningkatan pendapatan petani yang telah mengalami perbaikan secara signifikan. Dengan adanya upaya perbaikan dan menjaga mutu secara konsisten oleh masyarakat Bajawa serta melalui pengawasan dan edukasi oleh Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG), maka Kopi Arabika Flores Bajawa berhasil memiliki reputasi yang baik di segmen pasar domestik maupun internasional karena mutu citarasanya. Dan pada tanggal 28 Maret 2012 kopi arabika Bajawa menerima sertifikat Indikasi Geografis (IG) oleh Kemenkumham RI sebagai salah satu kopi arabika Indonesia.

Proses Produksi

Masyarakat Ngadha, sering disebut orang Bajawa, telah membudidayakan kopi Arabika secara turun temurun. Petani bertanam kopi Arabika di bawah pohon penaung, menggunakan pupuk organik, dan tanpa menggunakan pestisida sintetik, serta petik selektif (hanya buah masak). Kopi Arabika hasil olahan kelompok tani ternyata tergolong dalam mutu speciality (specialty coffee) karena cita rasanya yang enak, khas, dan unik. Ceri merah dipilih dengan cermat dan dipetik untuk memastikan kualitas terbaik, dengan minimal 95% ceri merah. Untuk mendapatkan biji kopi hijau, buah ceri dicuci (pengolahan metode basah), disortir, dihaluskan, difermentasi, direndam, dijemur, diseleksi dan disimpan. Biji kopi pada awalnya disortir dan diseleksi dan kemudian disortir dengan tangan untuk memastikan kualitas biji terbaik. Produk kopi dari dataran tinggi Ngada sebagian besar berupa biji kopi hijau (sebagai bahan baku) dan hanya sebagian kecil yang berupa kopi bubuk (sebagai produk akhir). Proses roasting tidak serta merta berlangsung di area produksi.

Keunggulan kopi arabika Flores Bajawa

1. Pembudidayaan secara organik

Kopi arabika Flores dibudidayakan dengan cara organik. Cara organik, berarti pupuk yang dipakai pada tanaman ini adalah pupuk alami tanpa menggunakan pestisida. Dengan cara alami maka kopi arabika Flores mampu menghasilkan aroma serta citarasa yang sangat khas.

2. Memiliki aroma dan citarasa yang khas

Atas budidaya kopi arabika Flores bajawa, kopi yang berasal dari Flores ini memiliki aroma yang sangat kuat. Tidak jarang, aroma yang sangat kuat ini mampu menggoda siapa pun untuk minum kopi.

3. Memiliki tingkat keasaman yang seimbang

Kopi arabika Flores bajawa memiliki tingkat acidity serta body yang medium. Dengan begitu kopi ini sangat cocok dikonsumsi oleh siapapun dan rasanya yang terkesan ringan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *