Blog

  • Kopi gayo

    Kopi gayo

    Kopi gayo (bahasa Inggris: Gayo coffee) merupakan varietas kopi arabika yang menjadi salah satu komoditi unggulan yang berasal dari Dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah, Indonesia. Ia telah mendapatkan Fair Trade Certified™ dari Organisasi Internasional Fair Trade pada tanggal 27 Mei 2010, Kopi gayo menerima sertifikat IG (Indikasi Geografis) diserahkan oleh Kemenkumham RI.Kemudian pada Event Lelang Special Kopi Indonesia tanggal 10 Oktober 2010 di Bali, kembali kopi arabika gayo memperoleh peringkat tertinggi saat cupping score. Sertifikasi dan prestasi tersebut kian memantapkan posisi kopi gayo sebagai kopi organik terbaik dunia.

    Latar belakang

    Perkebunan kopi yang telah dikembangkan sejak tahun 1908 ini tumbuh subur di Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah dan sebagian kecil wilayah Gayo Lues. Ketiga daerah yang berada di ketinggian 1200 m di atas permukaan laut tersebut memiliki perkebunan kopi terluas di Indonesia, yaitu sekitar 81.000 hektar. Masing-masing 42.000 hektar berada di Kabupaten Bener Meriah, selebihnya (39.000 hektar) di Kabupaten Aceh Tengah. Masyarakat Gayo berprofesi sebagai petani kopi dengan dominasi varietas Arabika. Produksi kopi arabika yang dihasilkan dari Tanah Gayo merupakan yang terbesar di Asia.

    Adapun penyebaran tumbuhan kopi ke Indonesia dibawa seorang berkebangsaan Belanda pada abad ke-17 yang mendapatkan biji arabika mocca dari Arab ke Batavia (Jakarta). Kopi Arabika itu pertama-tama ditanam dan dikembangkan di daerah Jatinegara, Jakarta, menggunakan tanah partikelir Kesawung yang kini lebih dikenal Pondok Kopi. Penyebaran selanjutnya dari tanaman kopi tersebut sampai juga ke kawasan Dataran tinggi Gayo, Kabupaten Aceh Tengah. Dari masa kolonial Belanda hingga sekarang gayo khususnya telah menjadi mata pencaharian pokok mayoritas masyarakat Gayo bahkan telah menjadi satu-satunya sentra tanaman kopi kualitas ekspor di daerah Aceh Tengah. Selain itu bukti arkeologis berupa sisa pabrik pengeringan kopi masa kolonial Belanda di Desa Wih Porak, Kecamatan Silih Nara, Aceh Tengah telah memberikan kejelasan bahwa kopi pada masa lalu pernah menjadi komoditas penting perekonomian.

    Peran Belanda dan kopi gayo

    Kehadiran kekuasaan Belanda di Tanah Gayo tahun 1904 serta merta diikuti pula dengan hadirnya pendatang-pendatang lain. Pada masa itu wilayah Aceh Tengah dijadikan onder afdeeling Nordkus Atjeh dengan Sigli sebagai ibu kotanya. Di sisi lain, kehadiran Belanda juga telah memberi penghidupan baru dengan membuka lahan perkebunan, salah satunya kebun kopi di Tanah Gayo (di ketinggian 1.000 – 1.700 m di atas permukaan laut).

    Sebelum kopi hadir di Dataran tinggi Gayo, tanaman teh dan lada telah lebih dulu diperkenalkan. Menurut ahli pertanian Belanda JH Heyl dalam bukunya berjudul Pepercultuur in Atjeh menerangkan asalnya tanaman lada dibawa dari Madagaskar (Afrika Timur) dalam abad VII atau VIII ke tanah Aceh (Zainuddin, 1961:264). Sayangnya kedua tanaman itu kurang mendapat perhatian serius dari pemerintah kolonial. Pada akhirnya Belanda kemudian memperkenalkan dan membuka perkebunan kopi pertama seluas 100 ha pada tahun 1918 di kawasan Belang Gele, yang sekarang termasuk wilayah Kecamatan Bebesen, Aceh Tengah. Selain dibukanya lahan perkebunan, pada tahun 1920 muncul kampung baru masyarakat Gayo di sekitar perkebunan kopi Belanda itu, dan pada tahun 1925-1930 mereka membuka sejarah baru dengan membuka kebun-kebun kopi rakyat. Pembukaan itu didasari oleh pengetahuan yang diperoleh petani karena bertetangga dengan perkebunan Belanda itu. Pada akhir tahun 1930 empat buah kampung telah berdiri di sekitar kebun Belanda di Belang Gele itu, yaitu Kampung Belang Gele, Atau Ganja, Paya Sawi, dan Pantan Peseng (Melalatoa, 2003:51).

    Peninggalan

    Salah satu bukti kepurbakalaan yang berkaitan dengan komoditas kopi ini adalah temuan berupa sisa pabrik pengeringan kopi (biji kopi) di dekat Masjid Baitul Makmur, Desa Wih Porak, Silih Nara, Aceh Tengah, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (Susilowati,2007). Secara astronomis terletak pada 040 36.640′ LU dan 0960 45.660′ BT (47 N 0251594 UTM 0510018). Bekas pabrik pengeringan kopi tersebut menempati lahan berukuran 110 m x 60 m, sebagian kini telah menjadi lahan Pesantren Terpadu Darul Uini. Pada lahan tersebut terdapat sisa bangunan berupa sisa pondasi, sisa tembok bangunan, bekas tempat kincir air, dan beberapa kolam tempat proses pengeringan kopi.

    Tempat kincir air ditandai dengan 3 buah tembok berketebalan 15 cm, tinggi sekitar 2 m dan di bagian permukaan atasnya dijumpai masing-masing 2 buah baut besi yang diperkirakan sebagai tempat bertumpunya kincir angin. Di dekat bekas tempat kincir air tersebut dijumpai dua buah kolam tempat pemrosesan kopi, salah satunya berukuran panjang sekitar 2,65 m, lebar, 2,33 m dan tinggi sekitar 1,25 m. Pada bagian selatan terdapat saluran air yang menuju ke kolam di bagian selatan. Selain itu juga terdapat bekas tembok kolam pengering gabah kopi di bagian paling selatan setelah tembok saluran air. Pada bekas tembok kolam tersebut masih terdapat lubang saluran air di bagian utara. Setelah masa kemerdekaan pabrik tersebut pernah terlantar, selanjutnya sekitar tahun 1960-an hingga tahun 1979 pabrik tersebut pernah dikelola oleh PNP I, kemudian kepemilikannya berpindah ke PT Alasilo dan terakhir lahannya kini dimiliki oleh Dinas Perkebunan Pemerintah Daerah Kab. Aceh Tengah.

    Setelah kemerdekaan

    Pada paruh kedua tahun 1950-an, orang Gayo mulai berkebun kopi. Pada periode itu hutan-hutan dibabat untuk dijadikan kebun kopi. Pada tahun 1972 Kabupaten Aceh Tengah tercatat sebagai penghasil kopi terbesar dibandingkan dengan kabupaten lainnya di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Luas areal kebun kopi di Kabupaten Aceh Tengah pada tahun 1972 adalah 19.962 ha. Perkebunan kopi bagi warga Kabupaten Bener Meriah (pemekaran dari Kab. Aceh Tengah) dan Kabupaten Aceh Tengah merupakan urat nadi perekonomian yang paling menonjol, selain perdagangan sayur mayur seperti kol/kubis, wortel, cabai, dan coklat. Sebagai komoditas ekspor, 27.953 keluarga di Aceh Tengah menggantungkan hidup mereka pada budidaya kopi dengan luas areal 46.392 ha, dan dengan rata-rata 720,7 kg/ha/tahun (BPS Kab. Aceh Tengah 2005:144-145). Konflik yang berkepanjangan menyebabkan sedikitnya 6.440 ha lahan kopi terlantar dan 5.037 keluarga kehilangan lapangan kerja.

    Setelah konflik mereda dan ditandatanganinya perjanjian damai RI-GAM pada akhir tahun 2005, para petani kopi kini mulai berani bercocok tanam di kebun kopi yang terletak jauh di lereng gunung, tidak sekadar menanam kopi di pekarangan rumah. Harga jual kopi pun -meski dipengaruhi harga kopi dunia- relatif stabil dan terus menguat karena jalur perdagangan antara Takengon – Bireun – Lhokseumawe – Medan dapat dilalui kendaraan angkut tanpa resiko besar. Kini, aktivitas perkebunan kopi mulai bangkit kembali dan kini telah menjadi tulang punggung perekonomian di Kabupaten Aceh Tengah Bener Meriah dan Gayo Lues.

    Cita rasa

    Kopi arabika dari dataran Tinggi Gayo, telah dikenal dunia karena memiliki citarasa khas dengan ciri utama antara lain aroma dan perisa yang kompleks dan kekentalan yang kuat. International Conference on Coffee Science, Bali, Oktober 2010 menominasikan kopi Dataran Tinggi Gayo ini sebagai the Best No 1,dibanding kopi arabika dari tempat lain.

    Pasar internasional

    gayo cukup terkenal di dunia karena memiliki aroma dan kenikmatan yang khas dan jika di cupping atau di test rasa dan aroma di daerah gayo hampir memiliki cita rasa kopi yang ada di seluruh dunia, ini disebabkan oleh faktor ketinggian dan beberapa aspek lain yang menjadikan gayo terbaik, ini dibuktikan dengan beberapa kali gayo meraih penghargaan sebagai kopi terbaik dunia. Meski terjadi krisis di Eropa, tak mengurangi permintaan kopi asal dataran tinggi Tanah Gayo di pasar dunia. Kopi dari daerah gayo juga merupakan kopi termahal di dunia ini terbukti pada saat pameran kopi dunia yang diselenggarakan organisasi Specialty Coffee Association of America (SCAA) di Portland, Oregon Convention Center, Amerika Serikat. Negara tujuan terbesar ekspor kopi asal Dataran tinggi Tanah Gayo yang meliputi Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues itu adalah Amerika Serikat dan Uni Eropa.

    Karakteristik Kopi 

    Kenikmatan Gayo dimulai dari rasanya yang kuat dan berkarakter. Kopi Gayo memiliki rasa yang tidak pahit dan memiliki keasaman yang rendah dan memiliki sedikit sentuhan rasa manis. Makanya, Gayo ini seringkali dijadikan sebagai bahan campuran berbagai house blend coffee.

    Kopi Gayo paling cocok ditanam di ketinggian 1000 mdpl. Namun, Gayo ini juga memiliki keunikan tersendiri, yaitu ketinggian perkebunan yang menentukan cita rasanya. Perbedaan ketinggian perkebunan ini ternyata juga bisa mempengaruhi rasa Gayo lho. Dari satu sisi, hal ini menyebabkan rasa Gayo tidak konsisten, namun di sisi lain, hal ini menjadi keunikan tersendiri dari Kopi Gayo.

    Soal rasa, Kopi Gayo memberikan sentuhan nutty cenderung buttery dengan aroma rempah yang wangi

    Kualitas Kopi Gayo Sudah Diakui Dunia

    Kualitas Kopi Gayo sudah diakui oleh dunia sebagai kopi terbaik melalui sertifikat resmi akan kualitasnya yang keluar pada tahun 2010 lalu. Selain itu, sekarang ini juga para petani sedang mengembangkan tiga varietas Kopi Gayo yang sedang dibudidayakan, yaitu Gayo 1, Gayo 2, dan P88 yang juga sudah diakui oleh dunia sebagai kopi terbaik.

    Berbagai Jenis Kopi 

    Kopi Gayo memiliki beberapa jenis, yaitu:

    • Bergendal

    Bergendal merupakan salah satu jenis Gayo yang termasuk ke dalam jenis Arabika. Kopi Bergendal diambil dari Bahasa Belanda, yaitu “Berg” (gunung) dan “Dal” (lembah). Kopi ini ditanam di perkebunan Bener Meriah, Aceh, yang tumbuh di ketinggian 1.200 sampai 1.500 mdpl dengan cita rasa sedikit buah-buahan dengan sentuhan herbal dan spicy dengan tingkat keasaman yang rendah.

    • • Rambung

    Kopi Rambung adalah salah satu jenis Gayo yang memiliki biji paling besar di antara kopi Arabika lainnya yang ditanam di tanah Gayo. Kopi Rambung ini memiliki pertumbuhan yang cepat yang membutuhkan lahan lebih banyak untuk membudidayakannya.

    • • Sidikalang

    Jenis Kopi Gayo selanjutnya adalah Kopi Sidikalang. Kopi Sidikalang ini tumbuh di ketinggian 1,500 mdpl  yang memiliki masa hidup tanaman yang panjang dengan perawatan dan proses yang tepat.

    • • Lini Ethiopia

    Sebagai bagian dari Gayo, kopi Lini Ethiopia memiliki rasa yang berbeda-beda, tergantung dengan tempat penanamannya. Namun, Lini Ethiopia ini pada dasarnya merupakan varietas kopi Arabika yang pertama kali masuk ke Indonesia pada 1928 lalu.

    • • Timtim Robust

    Jenis Gayo yang satu ini merupakan persilangan antara kopi Arabika dan Robusta yang awalnya ditanam di Timor Timur. Setelah tahun 1980-an, barulah Timtim Robusta ini dibawa ke dataran tinggi di Aceh yang kemudian dikembangkan.

    Cara Terbaik Menikmati Gayo

    Ada beberapa cara yang bisa kamu coba untuk menikmati Gayo, mulai dari menggunakan teknik V60 atau pour over, menggunakan french press, atau bisa juga dengan menggunakan Vietnam drip maupun aeropress. Pada dasarnya, Gayo ini sendiri sudah memiliki rasa yang khas, bisa dinikmati sebagai single origin maupun campuran hidangan kopi lain.

    Budaya Kopi

    Kopi tampaknya tidak bisa dilepaskan dari kehidupan orang Gayo. Dari kopilah, sebagian besar warga Gayo hidup. Tidak heran jika kopi begitu disayang.

    Dataran tinggi Gayo yang berada di punggung pegunungan Bukit Barisan, seperti telah ditakdirkan Tuhan sebagai ladang kopi yang subur. Tanaman kopi tumbuh di mana-mana, mulai di pekarangan rumah, pinggir jalan, hingga lereng-lereng perbukitan.

    Seperti doa dalam ritual Dua Ni Kopi, Siti Kewe menghasilkan buah kopi yang lebat dan bijinya yang nikmat. Tahun 2020, menurut data Badan Pusat Statistik Aceh, produksi kopi arabika gayo di Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues mencapai 65.793 ton biji kopi (green beans). Produksi ini mencapai 40 persen dari total produksi kopi arabika nasional.

    Sebagian besar produksi kopi arabika gayo diekspor ke luar negeri, terutama Amerika Serikat, Eropa, dan beberapa tahun belakangan ini ke China. Para pembeli dari negara-negara itu berani menyerap dan membeli mahal kopi arabika gayo di atas standar harga internasional.

    Demikianlah, cita rasa khas kopi arabika gayo telah terpatri di banyak lidah. Sayangnya, budaya masyarakat Gayo tempat Siti Kewe tumbuh, belum tenar seperti kopinya. Lewat Festival Panen Kopi Gayo, diharapkan tradisi budaya Gayo diperkenalkan lagi agar dikenal banyak orang.

    Asal-usul

    Tanaman kopi arabika dibawa ke Tanah Gayo oleh Belanda. Ketinggian tanah dan temperatur udara di dataran tinggi ini diyakini sangat cocok. Sebetulnya di kawasan ini sudah lama tumbuh jenis lain tanaman kopi lain. Warga setempat menyebutnya kahwa atau sengkawa, yang dipercaya berjenis robusta.

    Sayangnya, saat itu hanya sedikit orang paham manfaat serta nilai ekonominya. Kebanyakan warga Gayo menganggap bahwa hanyalah tanaman belukar luar biasa. Walaupun dimanfaatkan sebatas bagian daunnya.

    Daun kahwa dipanggang kering, lalu diracik menjadi minuman kupi kolak ulung. Minuman itu disajikan panas bersama tambahan gula aren. Sementara buah dan biji kopinya dibiarkan menjadi makanan hewan liar. Baru pada 1908, sekitar empat tahun setelah Belanda menguasai Takengon, tanaman kopi arabika dibudidayakan.

    Saat Perang Aceh meletus tahun 1873, daerah Gayo hampir tak tersentuh. Belanda baru menyerang Gayo tahun 1904 dipimpin Overste van Daalen. Kisah ini dicatat dalam buku Riak di Laut Tawar Tradisi dan Perubahan Sosial di Gayo Aceh Tengah oleh Mukhlis PaEni (2016).

    Di Takengon, bibit pertama tanaman kopi arabika dipercaya ditanam di wilayah Paya Tumpi, sebelah utara Danau Lut Tawar. Belanda resmi mendirikan perkebunan kopi arabika seluas 125 hektar pada 1930. Lahan perkebunan besar itu berlokasi di dua tempat, Belang Gele, Aceh Tengah, dan Bergendal, Bener Meriah.

    Perkebunan pertama, Wilhelmina Belang Gele, dikelola Belanda sementara yang kedua, Burni Bius, dikelola orang Jerman. Semua tercatat dalam buku Kopi dan Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Gayo (2012) terbitan Balai Pelestarian Nilai Budaya Banda Aceh.

    Seabad sebelumnya Belanda sudah lebih dulu membudidayakan kopi arabika di beberapa area dataran tinggi di Pulau Jawa. Oleh karena itu banyak koeli (kuli) kontrak asal tanah Jawa, Jawa Kontrak, didatangkan ke Gayo sejak tahun 1920.

    Tidak heran jika masyarakat mengandalkan sumber penghidupan mereka, salah satunya dari tanaman kopi. Ada banyak tanaman dan perkebunan kopi arabika diwariskan turun-temurun. Salah satunya dimiliki Marta Jaya Kusuma (45), seorang Reje (Kepala) Kampung atau Desa Paya Tumpi.

    ”Dulu bapak saya punya 2 hektar kebun kopi. Alhamdulillah kami enam orang anaknya bisa berkuliah sampai lulus,” kata Marta saat ditemui di sela acara Festival Panen Gayo 2023.

    Kini Marta mewarisi tiga perempat hektar lahan kebun kopi. Setiap panen kebunnya bisa menghasilkan 500-an kilogram green beans, yang dijualnya di kisaran Rp 100.000-an per kilogram. Sebetulnya total produksi panen yang dihasilkan bisa lebih banyak lagi. ”Saya tak rajin merawat kebun kopi karena harus mengurus warga sebagai Reje (kepala desa),” ujarnya.

    Beberapa waktu lalu ada puluhan batang pohon kopi lama miliknya mati dari 1.000 batang yang sudah ada sebelumnya. Marta mengaku sangat menyesali hal itu. Dia berencana akan lebih serius mengurus kebun kopinya terutama jika tak lagi menjadi Reje.

    Apa yang dialami Marta adalah gejala umum di kalangan petani kopi di Aceh Tengah. Kebun kopi belum sepenuhnya digarap serius sehingga produktivitasnya begitu-begitu saja.

    Mahdi Usati, salah satu pedagang kopi arabika gayo untuk pasar ekspor yang juga pencicip kopi (copper) profesional, menceritakan, kebun kopi arabika di Bener Meriah dan Aceh Tengah sebetulnya adalah lahan kebun kopi arabika terluas di dunia saat ini. Data tahun 2018 menunjukkan, setidaknya ada 80.000 hektar lahan kebun kopi di seluruh Tanah Gayo. Sayangnya total produksi kopinya justru yang terkecil, kalah dibandingkan Vietnam atau Brasil. ”Kemampuan produksi kebun kopi di Vietnam per hektar per tahun bisa mencapai 1,2-1,5 ton (green beans).”

    Sementara menurut Armiyadi, sesama pengekspor yang juga konsultan tanam kopi, total kapasitas produksi maksimal kopi arabika di perkebunan Brasil malah mencapai 5-12 ton. Padahal, di Aceh Tengah rata-rata hasil panen kopi per 1 hektar lahan masih mentok maksimal di 720 kilogram per tahun.

    Keduanya sama-sama menyebut, rendahnya produktivitas kebun kopi arabika di Gayo terkait kerangka berpikir dan etos kerja petani yang masih menganggap pekerjaan di kebun kopi sekadar warisan dan belum dianggap serius. Kerja-kerja berkebun juga masih kerap dianggap pekerjaan kotor tak bergengsi menjadi aparat pemerintah, polisi, atau tentara. Malah kerap terdengar cerita lahan kopi warisan dijual untuk masuk menjadi aparat.

    Padahal, pendapatan dari hasil menanam kopi lumayan menjanjikan. Apalagi harga kopi arabika gayo terbilang stabil, mengikuti atau bahkan jauh di atas harga internasional. Harga per kilogram sudah mencapai Rp 130.000 per kilogram green beans. Itu pun biasanya para pembeli di luar negeri masih akan menambahkan 70-200 sen dollar AS lagi agar penjual tak beralih ke pembeli lain.

    ”Saya berani pastikan kopi (arabika) gayo sampai sekarang masih menjadi kopi komersial termahal di dunia. Harga kopi kita selalu jauh di atas harga yang ditetapkan Organisasi Kopi Internasional (ICO),” ujar Mahdi.

    Di luar kopinya, warga lokal seperti Hardiansyah melihat kekayaan tradisi lokal terkait kopi, tak ternilai harganya. Sebagian bisa dijual dalam bentuk paket-paket wisata.

    TEMPAT BERMAIN SLOT YANG ASIK :MAHKOTA69

  • Kopi Arabika Flores Bajawa

    Kopi Arabika Flores Bajawa

    Kopi Arabika Bajawa atau dikenal dengan nama Kopi Bajawa (bahasa Inggris: Bajawa Coffee) merupakan varietas kopi arabika. Kopi Arabika merupakan sumber pendapatan utama bagi masyarakat yang mendiami wilayah dataran tinggi Ngada di Pulau Flores bagian tengah pada koordinat antara 120°05″ BT – 121°03″ BT dan 08°45″ LS – 08°52″ LS. Dataran tinggi Ngada merupakan kawasan pertemuan dua lereng gunung api, yaitu Gunung Inerie dan Gunung Abulobo. Secara administratif kawasan tersebut merupakan wilayah dua kecamatan, yaitu Kecamatan Bajawa dan Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngadha, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

    beberapa tahun belakangan, konsumsi kopi memang cukup meningkat dengan signifikan di tanah air. Bukan sekadar gerai kopi yang menyebar di pelbagai tempat hingga di pelosok-pelosok kota kabupaten saja yang menandai hal itu, pun pula pencarian pada pelbagai jenis kopi di Nusantara. Keuntungan dari negeri kita Indonesia ini memang keberagamannya. Keberagaman geografis dan juga keberagaman budaya. Dua hal ini sedikit banyak menjadi ciri penanda dari kopi-kopi di Indonesia, begitu juga Kopi Bajawa. Kita tahu, tanaman kopi akan berkembang sesuai dengan karakter tempat di mana ia ditanam, karakter geografis dan karakter budayanya. Keduanya itu sesungguhnya pula saling berhubungan. Demikianlah maka pada wilayah tertentu, kopi yang dihasilkan akan bercita rasa tertentu dan ini tentunya berbeda, meski pun juga punya karakter sama dengan kopi-kopi dari wilayah lain. Tentu saja kekhasan geografis yang beragam itulah penyebabnya. Di dalam konteks karakter budaya, penamaan pada sebuah jenis kopi memberikan sugesti yang berbeda pada konsumennya. Katakanlah, penamaan Kopi Bajawa membawa di dalam benak kebudayaan tanah Bajawa itu. Hal ini bahkan terjadi pada konsumen yang belum pernah sama sekali datang ke tanah Bajawa. Sang konsumen kopi itu setidaknya merasa ia mereguk sesuatu dari tanah yang jauh, meski ia belum ke sana. Barangkali hal ini mirip dengan perasaan orang-orang Eropa ketika menghirup aroma rempah meskipun belum pernah datang ke Hindia Belanda pada abad-abad yang silam.

    Usia Kopi Bajawa sendiri, menurut beberapa sumber, tidak setua usia kolonialisme tersebut. Bahkan belum seusia Republik Indonesia. Adalah Matheus Jhon Bey, Bupati Kabupaten Ngada periode 1978-1988-lah, orang paling berjasa di balik kehadiran Kopi Bajawa jenis Arabika yang terkenal itu kini. Pada 1977, ia mendatangkan bibit kopi dari Jawa untuk dibudidayakan di Kabupaten Ngada. Kopi ini lantas dibudidayakan di dua kecamatan yakni Golewa dan Bajawa, dua kecamatan yang ketinggiannya di atas 1.000 mdpl, cocok dengan sifat arabika. Sejak itu, kopi Bajawa jenis Arabika semakin meluas dan terus dibudidayakan secara telaten oleh masyarakat di Kabupaten Ngada. Pada sumber-sumber yang lain, kita mendapatkan informasi bahwa Kopi Bajawa menjadi terkenal semenjak film Ada Apa Dengan Cinta 2. Di dalam satu adegan film itu, Rangga dewasa yang baru pulang dari New York karena pada hari itu memang tak ada New York menemui Cinta yang tengah berlibur di Jogja bersama geng SMA-nya. Pada salah satu kedai kopi, dua pasangan cinta monyet masa SMA itu menyeruput kopi sambil saling berdiskusi.

    Jadi demikianlah. Kehadiran Kopi Bajawa di Kabupaten Ngada terjadi lantaran inisiatif dari seorang pamong praja yang barangkali melihat potensi yang ada pada daerah tersebut. Sedangkan faktor yang membuatnya menjadi sangat populer didorong oleh kerja kebudayaan yakni sebuah film. Tentu saja bukan AADC 2 semata yang membuat remaja tanggung di Jakarta Selatan misalnya menyeruput Kopi Bajawa pada kencan pertamanya. Ada petani di Ngada yang begitu telaten mengerjakan kebun kopinya serta ada distributor-distributor yang mampu memastikan hasil panen kopi di Bajawa bisa tersaji dalam kemasan yang cantik di gerai-gerai kopi di Jakarta. Jika popularitas Kopi Bajawa akibat nongol sebentar di dalam film AADC 2 tidak diimbangi infrastruktur perdagangan Kopi Bajawa yang baik, maka sia-sialah semuanya itu. Ia hanya ingat beberapa hari saja setelah orang menyaksikan film itu dan lantas dilupakan. Beruntunglah bahwa kopi itu sudah tersedia di gerai-gerai seusai film itu muncul. Sehingga ingatan orang tentangnya bisa terjaga dan bahkan dipupuk terus menerus.

    Hal yang diungkapkan di atas menunjukkan sebuah fenomena penting untuk kita. Bahwasanya pembangunan kebudayaan mestilah berjalan beriringan dengan pembangunan sektor lainnya sehingga mampu membawa kemaslahatan untuk banyak orang. Atau kerja-kerja kebudayaan mestilah juga jeli mengangkat potensi-potensi lain. Dengan begitu barulah kesejahteraan secara keseluruhan bisa menampak.

    Bicara tentang kopi dan Flores, saya teringat larik dari seorang penyair, Djoko Saryono yang kira-kira jika diparafrasekan berbunyi demikian, ‘ketika ku minum seteguk kopi, sesungguhnya aku menghirup jejak kolonialisme.’ Tentu saja larik dari Djoko Saryono tidak secepat itu. Ketika membuat tulisan ini saya lupa meletakkan dimana buku kumpulan puisi beliau. Sudah coba saya cari tetapi tak bersua jua. Di mesin pencari google pun puisi yang saya maksudkan tidak saya jumpai. Namun demikian, mengapa larik puisi ini begitu melekat pada saya, tentu saja lantaran kebenaran yang teramat puitis, bukan puitisnya puisi tersebut, di balik kalimat itu. Kita barangkali jarang betul membayangkan kolonialisme ketika ngopi-ngopi cantik dengan para sahabat. Tetapi memang apa yang kita banggakan dengan kopi Indonesia tersebut adalah memang warisan Kolonial. Sejarah kopi di Indonesia mencatat bahwa pada tahun 1696 VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) mendarat di Jawa. Di dalam bawaan mereka yang begitu banyak, mereka juga membawa kopi dari Malabar, India, berjenis arabika. VOC lantas menanamnya di Sumatera, Sulawesi, Bali, Timor, dan pulau-pulau lain di HIndia Belanda. Bahkan, kopi menjadi salah satu komoditas andalan untuk VOC. Ketika itu, tahun 1700-an, penjualan kopi dari Hindia Belanda begitu besarnya hingga ke Belanda pun memonopoli pasar kopi dunia pada waktu itu. Hingga di level dunia pun Pulau Jawa termasuk pusat produksi kopi. Hingga ketika itu secangkir kopi jadi populer dengan nama atau istilah a cup of Java.

    Setali tiga uang dengan sejarah kopi, ketika kita menambahkan embel-embel Flores di belakang kopi, maka kita pun sesungguhnya berbenturan dengan suatu hal yang sama. Nama Flores sendiri bukanlah nama asli. Itu adalah nama yang muncul akibat kolonialisme pula. Nama asli dari Pulau Flores sendiri sebetulnya Nusa Nipa atau Pulau Ular. Nama Flores berasal dari bahasa Portugis, “cabo de flores” yang berarti “Tanjung Bunga”. Nama tersebut semula diberikan oleh S.M. Cabot untuk menyebut wilayah timur dari pulau Flores. Akhirnya dipakai secara resmi sejak tahun 1636 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda kala itu, Hendrik Brouwer, untuk menyebut pulau yang sekarang dikenal sebagai Pulau Flores itu.

    Pada nama Kopi Flores – Bajawa dengan demikian kita sebetulnya secara berlebihan menunjukkan warisan dari kolonialisme kepada kita. Kopi itu sendiri adalah warisan kolonial dan nama pula tempat asal dari kopi yang dirujuk adalah nama yang diberikan oleh kolonial pula. Namun demikian, terlepas dari sejarah yang demikian adalah kemampuan kita untuk membalikkan warisan kolonial tersebut untuk kebutuhan dan kepentingan kita sendiri. Di dalam kasus Kopi Bajawa Flores sesungguhnya tampak pula upaya untuk keluar dari jebakan kolonialisme itu. Kopi Bajawa Flores kini menjadi salah satu komoditi yang mengharumkan nama pulau berbentuk menyerupai ular tersebut

    Karakteristik

    Kopi Arabika dari kawasan ini jika disangrai pada tingkat sedang (medium roasting) secara umum memiliki komponen-komponen citarasa utama sebagai berikut: aroma kopi bubuk kering (fragrance) dan aroma kopi seduhan (aroma) kuat bernuansa bau bunga (floral), perisa (flavor) enak dan kuat, kekentalan (body) sedang sampai kental, keasaman (acidity) sedang, serta kesan rasa manis (sweetness) kuat. Selain menggunakan tingkat sangrai sedang komponen rasa yang dihasilkan dari kopi tersebut terdapat juga rasa karamel, coklat, citrus, hazelnut, kacang macadamia bahkan terdapat juga cita rasa herbal yang terkandung dalam kopi jenis ini

    Geografis

    Wilayah geografis (1 200-1.800 m dpl) memiliki tanah yang gelap, subur berpori yang berasal dari material vulkanik, yang dengan kondisi iklimnya (suhu rata-rata 15-25 °C, dan pada waktu-waktu tertentu suhu sangat dingin (<10 °C) karena pengaruh angin muson, dengan angin tenggara dari benua Australia) menciptakan suatu wilayah tertentu. Ekosistem pertanian di wilayah tersebut sangat cocok untuk kopi arabika, yang dikombinasikan dengan kondisi iklim dataran tinggi Ngada dan pengetahuan produsen menghasilkan kopi berkualitas tinggi.

    Pada tahun 1958, berdasarkan UU 69/1958 tentang pembentukan daerah tingkat dua (II) pada daerah tingkat satu (I) untuk wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur menjadi dasar terbentuknya Dinas Pertanian dan Perkebunan. Proyek PRPTE yang dimulai tahun anggaran 1978/1979 melalui Dinas Perkebunan Propinsi Nusa Tenggara Timur mulai berusaha untuk membangkitkan kembali budidaya kopi arabika di Flores melalui Proyek Rehabilitasi dan Pengembangan Tanaman Ekspor (PRPTE). Pertimbangan pengembangan kopi arabika di Flores bukan hanya didasarkan pada kepentingan ekspor, akan tetapi perkebunan kopi di dataran tinggi Bajawa juga dipandang mempunyai peran strategis dalam melestarikan fungsi hidrologis. PRPTE di Flores telah mampu mengembalikan dan menambah luas areal perkebunan di Flores sehingga produksi kopi dari Flores mulai meningkat. Pada akhir tahun 1980-an, luas lahan kopi di Flores mencapai sekitar 8.000 ha. Program Pengembangan Wilayah Khusus (P2WK) yang digulirkan pada tahun 1993/1994 menjadi awal pengembangan kopi secara lebih luas di daerah Ngada.

    Kendali Mutu

    Sejak dilakukan pemberdayaan petani kopi Arabika di kawasan dataran tinggi Bajawa oleh Dinas Perkebunan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Pemerintah Kabupaten Ngada, dan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia mulai tahun 2004 telah terjadi perbaikan mutu kopi petani yang signifikan serta telah berhasil dipromosikan ke segmen pasar specialty dengan nama Kopi Arabika Flores Bajawa. Kegiatan pemberdayaan tersebut telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, baik berupa peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani kopi maupun peningkatan pendapatan petani yang telah mengalami perbaikan secara signifikan. Dengan adanya upaya perbaikan dan menjaga mutu secara konsisten oleh masyarakat Bajawa serta melalui pengawasan dan edukasi oleh Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG), maka Kopi Arabika Flores Bajawa berhasil memiliki reputasi yang baik di segmen pasar domestik maupun internasional karena mutu citarasanya. Dan pada tanggal 28 Maret 2012 kopi arabika Bajawa menerima sertifikat Indikasi Geografis (IG) oleh Kemenkumham RI sebagai salah satu kopi arabika Indonesia.

    Proses Produksi

    Masyarakat Ngadha, sering disebut orang Bajawa, telah membudidayakan kopi Arabika secara turun temurun. Petani bertanam kopi Arabika di bawah pohon penaung, menggunakan pupuk organik, dan tanpa menggunakan pestisida sintetik, serta petik selektif (hanya buah masak). Kopi Arabika hasil olahan kelompok tani ternyata tergolong dalam mutu speciality (specialty coffee) karena cita rasanya yang enak, khas, dan unik. Ceri merah dipilih dengan cermat dan dipetik untuk memastikan kualitas terbaik, dengan minimal 95% ceri merah. Untuk mendapatkan biji kopi hijau, buah ceri dicuci (pengolahan metode basah), disortir, dihaluskan, difermentasi, direndam, dijemur, diseleksi dan disimpan. Biji kopi pada awalnya disortir dan diseleksi dan kemudian disortir dengan tangan untuk memastikan kualitas biji terbaik. Produk kopi dari dataran tinggi Ngada sebagian besar berupa biji kopi hijau (sebagai bahan baku) dan hanya sebagian kecil yang berupa kopi bubuk (sebagai produk akhir). Proses roasting tidak serta merta berlangsung di area produksi.

    Keunggulan kopi arabika Flores Bajawa

    1. Pembudidayaan secara organik

    Kopi arabika Flores dibudidayakan dengan cara organik. Cara organik, berarti pupuk yang dipakai pada tanaman ini adalah pupuk alami tanpa menggunakan pestisida. Dengan cara alami maka kopi arabika Flores mampu menghasilkan aroma serta citarasa yang sangat khas.

    2. Memiliki aroma dan citarasa yang khas

    Atas budidaya kopi arabika Flores bajawa, kopi yang berasal dari Flores ini memiliki aroma yang sangat kuat. Tidak jarang, aroma yang sangat kuat ini mampu menggoda siapa pun untuk minum kopi.

    3. Memiliki tingkat keasaman yang seimbang

    Kopi arabika Flores bajawa memiliki tingkat acidity serta body yang medium. Dengan begitu kopi ini sangat cocok dikonsumsi oleh siapapun dan rasanya yang terkesan ringan.

  • Kopi kintamani khas bali yang mendunia

    Mengenal Kopi Bali Kintamani dan Karakteristiknya

    Kopi Bali adalah salah satu jenis kopi Indonesia yang sangat digemari oleh banyak orang baik itu Masyarakat Indonesia maupun mancanegara. Indonesia menjadi penghasil kopi terbesar nomor 4 di dunia. Jelas ini tidaklah mengherankan mengingat hampir setiap wilayah di Indonesia memiliki kebun kopi dengan metode pengolahan yang khas.

    Ragam cita rasa dan karakteristik yang dihasilkan oleh kopi Indonesia sangatlah beragam, menjadikan produk kopi Nusantara semakin diminati. Keunikan rasanya membuat kopi dari berbagai daerah di Indonesia tidak hanya dinikmati oleh penduduk lokal, tetapi juga oleh wisatawan dan masyarakat dari berbagai belahan dunia, dan salah satunya adalah kopi bali yang memiliki cita rasa unik.

    Mengenal Kopi Bali Kintamani

    Selama ini, Bali terkenal dengan pesona alamnya yang menjadi daya tarik wisatawan dari seluruh dunia. Selain kecantikan alamnya, Pulau Dewata juga dikenal sebagai penghasil biji kopi arabika terbaik. Kopi Kintamani tumbuh subur di perkebunan kopi yang terletak di sekitar Gunung Batur Kecamatan Kintamani dengan menerapkan metode penanaman tradisional.

    Berbeda dengan jenis kopi dari Pulau Jawa atau Sumatera yang sudah dikenal sejak masa penjajahan Belanda, Kopi Kintamani berasal dari petani yang membawa biji kopi dari Lombok. Seperti halnya kopi-kopi lainnya di Indonesia, kopi yang telah terkenal ini juga dinamai sesuai dengan daerah asalnya. Jenis kopi Arabika ini memiliki cita rasa yang khas, seiring dengan proses penanamannya yang unik.

    Kopi yang berasal dari Pulau Dewata memiliki profil rasa yang cenderung manis, fruity, dan floral, dengan sentuhan chocolaty, serta keasaman yang rendah. Secara khusus, jenis kopi Kintamani dari Bali menampilkan karakter citrus yang segar, dilengkapi dengan nuansa chocolaty, karamel, atau brown sugar yang menyenangkan.

    Dalam hal tekstur, kopi Kintamani memiliki body yang medium, dengan sedikit rasa pahit dan keasaman yang mirip jeruk, menciptakan pengalaman minum yang menyegarkan. Kombinasi ini menjadikan kopi Kintamani diminati oleh banyak pecinta kopi.

    ciri Kopi Bali Kintamani

    Karakteristik kopi Bali yang unik dan khas sangat diminati oleh para pecinta kopi. Minuman kopi yang berasal dari Pulau Dewata ini dikenal dengan sebutan kopi arabika Kintamani Bali. Nama ini dipilih karena perkebunan kopi tersebut berada di Kintamani, sebuah kecamatan di Provinsi Bali, khususnya di Kabupaten Bangli.

    Keunikan cita rasa dan aroma kopi ini tentu tidak terlepas dari proses penanaman, metode pengolahan, dan cara penanganan biji kopi yang khas.

    1. Rasa Manis

    Kopi Bali Kintamani memiliki sentuhan manis yang lembut. Sensasi manis ini akan semakin terasa apabila Anda menyeduhnya dengan metode tradisional, seperti tubruk. Persiapannya sangat sederhana, cukup seduh bubuk kopi Kintamani halus dengan air panas. Biasanya, masyarakat setempat menambahkan sedikit gula, namun Anda dapat mencoba alternatif pemanis yang lebih sehat.

    1. Tidak Terlalu Asam

    Sebagai jenis kopi Arabika, Kopi Kintamani memiliki karakteristik yang tidak terlalu asam seperti jenis Arabika lainnya. Ini cocok bagi Anda yang menghindari rasa asam yang kuat dalam secangkir kopi. Jenis kopi ini masih aman dikonsumsi oleh orang-orang bermasalah dengan asam lambung.

    1. Aroma Khas Rempah

    Proses budidaya kopi Arabika Kintamani memberikan sentuhan aroma rempah yang khas. Filosofi Tri Hita Karana, yang mengutamakan keseimbangan dan harmoni, menjadi pedoman dalam penanaman kopi Bali Kintamani. Salah satu prinsipnya adalah menjaga keseimbangan alam, dengan menanam kopi Arabika Kintamani berdampingan dengan komoditas lain. Ini memberikan pengaruh pada aroma rempah yang unik dan kaya.

    1. Fruity dan Citrusy

    Karakteristik citrus yang khas memberi keunikan pada kopi Bali Kintamani. Aroma citrus menghadirkan kesegaran yang khas, mirip dengan aroma jeruk atau lemon. Hal ini disebabkan oleh penanaman kopi Kintamani di lahan yang sama dengan perkebunan jeruk, serta pendekatan penanaman yang alami tanpa banyak menggunakan bahan kimia.

    1. Aroma Floral

    Aroma bunga yang khas memberikan kesan ringan pada kopi. Metode penanaman juga turut mempengaruhi profil aroma biji kopi Bali Kintamani yang istimewa. Tidak heran jika jenis kopi ini disukai oleh berbagai kalangan karena cita rasanya yang unik.

    1. Chocolatey

    Kopi Kintamani memiliki aroma coklat yang kompleks. Profil cita rasa ini menghadirkan kesan manis yang mirip karamel pada minuman kopi. Kondisi tanah dan geografi tempat budidaya juga berperan penting dalam pembentukan aroma tersebut.

    1. Kandungan Kafein yang Sedang

    Arabika Kintamani memiliki kandungan kafein yang tidak terlalu tinggi. Dengan kadar kafein berkisar antara 0,8% – 1,4%, kopi ini sangat cocok untuk para pemula yang ingin mencoba. Kopi yang memiliki kadar kafein yang sedang disukai oleh sebagian orang.

    1. Bijinya Lebih Besar

    Secara umum, biji kopi ini memiliki ukuran green bean yang lebih besar. Biji kopi dengan ukuran yang besar menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian pecinta kopi. Apalagi jenis kopi ini menawarkan rasa yang nikmat. 

    1. Tanpa Meninggalkan Aftertaste

    Salah satu karakteristik kopi Bali Kintamani adalah tidak meninggalkan aftertaste di mulut setelah diminum. Berbeda dengan jenis kopi lainnya yang seringkali meninggalkan aftertaste asam atau pahit. Inilah yang membuat jenis kopi ini menjadi favorit banyak pecinta kopi.

    10 Body Medium dan Tidak Terlalu Pahit

    Karakteristik selanjutnya dari kopi Bali adalah memiliki body yang sedang. Ini berarti tekstur minuman kopi Kintamani tidak terlalu kental namun juga tidak terlalu cair. Sensasi ketebalan kopi yang sedang ini sangat cocok bagi Anda yang tidak terlalu menyukai kopi yang terlalu pekat.

    Jika Anda tidak terlalu menggemari cita rasa pahit yang khas dari kopi, maka kopi arabika Kintamani mungkin akan cocok untuk Anda. Rasa kopi Bali Kintamani tidak terlalu pahit dan tajam.

    Filosofi Tri Hita Karana

    Jenis kopi Kintamani tumbuh di ketinggian 900-1000 mdpl di sekitar Gunung Batur, ini menghasilkan cita rasa dan aroma yang cenderung citrusy. Ini disebabkan oleh metode penanaman yang unik dan tidak konvensional.

    Perkebunan Kopi Kintamani sering kali juga menggabungkan tanaman jeruk atau sayuran lainnya, sehingga aroma buah jeruk turut menyertai cita rasa kopi. Proses penanaman yang dilakukan secara tradisional tanpa penggunaan bahan kimia turut berkontribusi pada aroma dan cita rasa citrusy ini.

    Dalam semangat filosofi “Tri Hita Karana” yang masih dipegang teguh masyarakat Bali, semua tahapan mulai dari penanaman hingga panen dilakukan secara alami dan tradisional. Filosofi ini, yang diterjemahkan sebagai tiga penyebab kebahagiaan, salah satunya adalah mengedepankan keseimbangan alam.

    Perkebunan Kopi Kintamani menjaga keseimbangan tersebut dengan menerapkan sistem irigasi subak, menggunakan pupuk organik, dan menghindari penggunaan pestisida. Selain itu, penanaman pohon kopi dilakukan bersamaan dengan pohon jeruk atau sayuran.

    Kopi Kintamani dikenal sebagai kopi yang ramah lingkungan karena proses penanamannya yang memperhatikan lingkungan. Pada tahun 2008, Kopi Kintamani mendapatkan sertifikasi Geographical Indication yang mengakui keberadaannya secara internasional.

    Untuk proses penyeduhan, Anda bisa mencoba metode tradisional seperti tubruk. Metode kopi tubruk dikenal luas dari Sabang hingga Merauke, dimana prosesnya sederhana dengan menggunakan bubuk biji kopi halus dan air panas. Seduhan tubruk dari Kopi Kintamani menghasilkan aroma yang kuat, dan biasanya warga lokal Bali menambahkan gula sebagai pemanis alami.

    Jika Anda lebih menyukai kopi dengan rasa yang lebih ringan, Anda juga dapat mencoba metode seduhan manual lain seperti V60 dan Chemex. Kedua metode tersebut menghasilkan kopi dengan rasa yang lebih halus dan ringan.

    Kesimpulan

    Kopi Bali Kintamani menjadi salah satu jenis kopi yang sangat populer karena memiliki cita rasa yang khas dan cara penanamannya yang tetap menjaga lingkungan